Ai For Government Digital Trust

Catatan Dr. Harkam Tujantri

Dr. Harkam Tujantri, S.Kom., M.Kom

“Membaca Fenomena Publik melalui Perspektif Artificial Intelligence, Data Science, dan Smart Government.”

Ketika Data Tidak Lagi Cukup Dipercaya

Membangun Government Digital Trust di Era Artificial Intelligence

“Transformasi digital bukan hanya tentang menghadirkan data lebih cepat, tetapi memastikan bahwa setiap data layak untuk dipercaya.”

Setiap hari, tanpa kita sadari, kita mengambil puluhan bahkan ratusan keputusan berdasarkan data digital. Seorang pegawai membuka aplikasi absensi sebelum memulai pekerjaan. Seorang pimpinan membaca laporan kegiatan melalui dashboard elektronik. Seorang auditor memeriksa dokumen digital, sementara pemerintah semakin mengandalkan data elektronik untuk merumuskan berbagai kebijakan publik.

Semakin banyak proses yang terdigitalisasi, semakin besar pula ketergantungan kita terhadap data. Tanpa disadari, kita mulai mempercayai bahwa apa yang tampil di layar adalah representasi yang benar dari kenyataan.

Namun, benarkah demikian?

Fenomena yang belakangan ramai diperbincangkan mengenai penggunaan aplikasi Fake GPS pada sistem absensi digital memberikan pelajaran yang menarik. Perdebatan yang muncul sering kali berfokus pada siapa yang menggunakan aplikasi tersebut atau bagaimana cara mencegahnya. Padahal, dari sudut pandang Artificial Intelligence dan Data Science, fenomena ini justru mengajarkan sesuatu yang jauh lebih mendasar. Persoalan utamanya bukanlah Fake GPS. Persoalan sesungguhnya adalah bagaimana kita membangun kepercayaan terhadap data digital.

Digitalisasi Belum Tentu Menghasilkan Data yang Dapat Dipercaya

Selama satu dekade terakhir, transformasi digital menjadi agenda penting di berbagai institusi, termasuk pemerintahan. Berbagai proses manual telah beralih ke sistem elektronik. Absensi menjadi digital, pelaporan dilakukan secara daring, layanan publik semakin terintegrasi, dan pengambilan keputusan mulai bertumpu pada data yang tersedia secara real time.

Perubahan ini membawa banyak manfaat. Proses menjadi lebih cepat, efisien, dan terdokumentasi dengan lebih baik. Namun, ada satu asumsi yang tanpa sadar ikut berkembang: bahwa data digital selalu identik dengan data yang benar. Dalam dunia Data Science, asumsi tersebut tidak pernah berlaku. Data digital bukanlah kebenaran. Data hanyalah representasi dari suatu peristiwa. Representasi itu dapat akurat, dapat pula tidak lengkap, bahkan dalam kondisi tertentu dapat dimanipulasi. Karena itu, kualitas sebuah keputusan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya data yang tersedia, tetapi terutama oleh integritas data yang digunakan. Prinsip inilah yang sering terlupakan ketika organisasi terlalu cepat percaya pada sistem digital.

Kepercayaan Selalu Dibangun dari Berbagai Bukti

Dalam kehidupan sehari-hari, hampir tidak ada keputusan penting yang diambil hanya berdasarkan satu informasi. Seorang dokter menggabungkan hasil pemeriksaan fisik, laboratorium, riwayat kesehatan, dan wawancara pasien sebelum menetapkan diagnosis. Seorang auditor melakukan konfirmasi silang terhadap berbagai dokumen sebelum menyimpulkan adanya penyimpangan. Seorang hakim mempertimbangkan berbagai alat bukti sebelum menjatuhkan putusan.

Mengapa?

Karena semakin penting sebuah keputusan, semakin besar kebutuhan untuk memastikan bahwa informasi yang digunakan benar-benar dapat dipercaya. Prinsip yang sama seharusnya berlaku dalam sistem digital. Apabila kehadiran seseorang hanya dibuktikan oleh satu koordinat GPS, maka sistem tersebut sesungguhnya sedang bertumpu pada satu jenis bukti yang memiliki keterbatasan. Ketika satu bukti dapat dimanipulasi atau mengalami gangguan teknis, seluruh keputusan yang bergantung padanya ikut berisiko. Masalahnya bukan pada teknologi GPS, melainkan pada desain sistem yang terlalu bergantung pada satu sumber informasi.

Artificial Intelligence untuk Membangun Kepercayaan

Selama ini Artificial Intelligence sering dipersepsikan sebagai teknologi yang mampu menggantikan pekerjaan manusia atau meningkatkan efisiensi organisasi. Padahal, salah satu peran AI yang paling strategis justru berada pada aspek yang jarang dibicarakan, yaitu membangun kepercayaan terhadap data. AI memungkinkan sistem memverifikasi berbagai jenis bukti secara bersamaan. Lokasi dapat dibandingkan dengan waktu pengambilan data, identitas pengguna, aktivitas yang dilaporkan, metadata perangkat, hingga pola perilaku historis. Ketika seluruh informasi tersebut saling menguatkan, tingkat keyakinan terhadap sebuah keputusan menjadi jauh lebih tinggi. Pendekatan ini bukan sekadar membuat sistem menjadi lebih pintar, tetapi juga membuat keputusan menjadi lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Menuju Government Digital Trust

Di sinilah saya melihat perlunya paradigma baru yang saya sebut sebagai Government Digital Trust. Government Digital Trust bukan sekadar keamanan siber atau perlindungan data. Lebih dari itu, Government Digital Trust adalah kemampuan pemerintah membangun sistem digital yang menghasilkan data berkualitas, dapat diverifikasi, transparan, dan dipercaya oleh seluruh pemangku kepentingan.

Dalam paradigma ini, Artificial Intelligence bukan digunakan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk memperkuat kualitas bukti digital sehingga keputusan yang diambil menjadi lebih objektif dan akuntabel. Transformasi digital yang sesungguhnya bukan diukur dari banyaknya aplikasi yang dibangun, tetapi dari tingkat kepercayaan masyarakat terhadap data yang dihasilkan oleh aplikasi tersebut.

Saatnya Mengubah Cara Pandang

Fenomena Fake GPS mungkin hanya salah satu contoh dari berbagai tantangan yang akan terus muncul seiring berkembangnya teknologi. Padahal sudah banyak muncul bentuk manipulasi lain: mulai dari identitas digital palsu, konten hasil kecerdasan buatan, hingga rekayasa informasi yang semakin sulit dikenali. Karena itu, membangun sistem yang hanya mengejar kecepatan tidak lagi cukup. Yang dibutuhkan adalah sistem yang mampu menjaga integritas data sejak awal proses hingga menjadi dasar pengambilan keputusan.

Artificial Intelligence memiliki potensi besar untuk mewujudkan hal tersebut, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada bagaimana teknologi itu dirancang dan diterapkan.

Pada akhirnya, masyarakat tidak memberikan kepercayaan kepada aplikasi, algoritma, ataupun teknologi. Masyarakat memberikan kepercayaan kepada keputusan yang dihasilkan oleh teknologi tersebut. Dan keputusan yang baik selalu dimulai dari data yang dapat dipercaya.

 

Profil Penulis:

Dr. Harkam Tujantri, S.Kom., M.Kom merupakan ASN PPPK pada Kementerian Sosial Republik Indonesia, akademisi, dan praktisi di bidang Data Science, Artificial Intelligence, dan Digital Government. Kepakaran penelitiannya meliputi Machine Learning, Hybrid Intelligent Model, Computer Vision, Natural Language Processing, Geospatial Intelligence, serta Artificial Intelligence for Government Digital Trust yang diterapkan untuk mendukung sistem verifikasi cerdas, analitik data pemerintahan, dan transformasi layanan publik berbasis bukti.