Ketersediaan data hasil belajar secara berkala menjadi kebutuhan penting bagi pemerintah daerah untuk mengidentifikasi kemampuan murid dan menentukan intervensi pendidikan secara lebih tepat. Menjawab kebutuhan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bungo meluncurkan aplikasi Bungo Pintar yang menyediakan data hasil pembelajaran secara real-time untuk jenjang TK, SD, hingga SMP.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengapresiasi aplikasi Bungo Pintar sebagai inovasi daerah dalam mengembangkan pembelajaran berbasis digital. Apresiasi tersebut disampaikan saat menghadiri peluncuran aplikasi Bungo Pintar di kantor BAPPEDA Kabupaten Bungo, Jumat (7/8/2026).
“Inovasi digital ini sangat cocok dan sejalan dengan apa yang sedang kami upayakan di Kemendikdasmen, yaitu memperkuat inovasi pembelajaran berbasis digital. Kami menyampaikan apresiasi dan selamat atas kehadiran aplikasi Bungo Pintar sebagai inisiatif kreatif dari daerah,” ujar Fajar.
Aplikasi Bungo Pintar lahir dari kebutuhan akan ketersediaan data hasil pembelajaran secara real-time. Melalui platform ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bungo dapat memetakan kemampuan akademik murid secara berkala, mulai dari mingguan hingga tahunan, untuk menentukan kebutuhan intervensi dan pelatihan guru. Aplikasi ini dilengkapi fitur seperti bank soal, gim literasi-numerasi, perpustakaan digital, hingga akademi Al-Qur’an. Murid juga dapat mempelajari materi yang sulit melalui simulasi permainan yang menyenangkan.
Bupati Bungo, Dedy Putra, mengatakan bahwa aplikasi Bungo Pintar telah menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bungo.
“Kedatangan Bapak hari ini merupakan agenda kami karena visi misi kami yaitu Bungo Pintar ini itu termuat dalam RPJMD Kabupaten Bungo,” ungkapnya.
Salah satu fokus utama program tersebut adalah literasi Al-Qur’an yang diwajibkan bagi murid pada 30 menit pertama jam sekolah. Hal ini menjadi bagian dari upaya daerah mengembangkan muatan lokal melalui ekosistem digital.
Inovasi ini lahir dari kegigihan tim yang dipimpin oleh Baskoro Pandu Aji, Kepala SD Negeri 183 Sumber Mulia dengan latar belakang Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Meski tidak memiliki latar belakang teknologi informasi, Baskoro membangun sistem ini secara otodidak melalui kolaborasi antarfasilitator.
Dengan biaya pengembangan Rp0, aplikasi tersebut berhasil diselesaikan dalam waktu tiga bulan.
“Pesan dosen saya dulu, jadilah guru PJOK yang otaknya berotot dan ototnya berotak,” ujar Baskoro saat menceritakan tantangan pengembangan aplikasi tersebut.
Sumber: Kemendikdasmen.go.id








